Saat Jumat Malam, Wanita ini Sembunyi Disemak-semak Dekat Gubuk Tua, Alasannya Malah Bikin Kagum!

Dari jarak 70 meter, Santi Agustina masih dapat melihat dengan jelas gubuk tua di tengah semak dan rerimbun pepohonan kawasan Tegal Binangun Palembang.


Tak banyak berbicara, polisi wanita (polwan) ini mengambil posisi duduk, menyelinap di antara ilalang sambil memperhatikan situasi sekitar.Jumat tengah malam itu, Santi bersama beberapa personel Satuan Reserse Narkoba Polresta Palembang bersiap menangkap bandar besar ganja asal Aceh.

Gubuk itu merupakan lokasi transaksi yang disepakati sang bandar.

Penantian selama tiga bulan segera terjawab saat seorang pria asal Aceh menghubungi polisi yang menyamar sebagai pembeli.

Informasi dihimpun polisi undercover, ganja akan dikirim pada Jumat malam itu.

Beberapa personel tandem masing-masing dua orang, kemudian menyebar di sekitar gubuk.

“Saya waktu itu nunggu di semak-semak. Untuk menghindari gigitan nyamuk pakai autan. Kalau ular memang agak takut,” ujar Santi menceritakan pengalamannya tahun 2014 lalu.

Sempat kesal, sebab pada pukul 03.00, target pemilik ganja memberitahu bahwa mereka belum sampai Palembang.

Padahal informasi yang dimiliki polisi mereka sudah di Palembang sejak sore.

Santi dan temannya sadar komplotan yang akan ditangkap merupakan bandar besar.

Berbahaya dan sangat berhati-hati dalam bertransaksi.

“Saya saat itu berpikir, kalau kita ikhlas, maka Tuhan akan melindungi. Kalau rasa takut itu pasti ada, itu manusiawi,” kata Santi ketika dibincangi Tribun Sumsel.

Menjelang masuk waktu subuh, target yang diburu datang.

Satu minibus mendekati gubuk. Tidak lama kemudian dalam percakapan melalui telepon diketahui mobil itu tidak membawa pesanan ganja.

Mobil itu mengangkut lima orang suruhan bos besar. Supaya yakin, mereka minta satu orang untuk ikut.

“Kemudian mereka tanya, mana orang abang. Satu anggota polisi menyamar lalu ikut rombongan itu ke dalam mobil. Di bawa keliling, seperti mau disandera,” jelas Santi.

Setengah jam kemudian, datang truk yang membawa tiga karung ganja dengan berat lebih 400 kg.

Santi bersama rekan-rekannya dengan cepat membekuk si pengirim paket pesanan itu.

Di tempat lain, polisi yang ikut rombongan dalam mobil mini bus tadi berada dalam ancaman.

Antisipasi sudah disiapkan, beberapa personel polisi menggunakan sepeda motor mengejar mobil itu.

“Sempat terjadi baku tembak. Akhirnya rekan kami yang menyamar berhasil diselamatkan,” ujar ahli karate ini.

Setelah di Tegal Binangun, polisi mengembangkan tangkapan ini ke arah Sukarami.

Pukul 06.00, ditemukan lagi satu dam truk isi beberapa karung ganja.

Total diamankan sebanyak 511 kg ganja, enam tersangka dan empat mobil.

Atas prestasi ini, Santi dan beberapa rekannya mendapat piagam penghargaan dari Kapolresta Palembang waktu itu, Kombes Pol Sabaruddin Ginting.

Sejak berdinas di kepolisian pada tahun 2000, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak penghargaan yang diperoleh ibu satu anak ini.


Selain kasus itu, polwan yang kini berpangkat Aipda ini pernah mendapat penghargaan atas pengungkapan kasus kepemilikan 47.275 butir ekstasi dan 6,5 kg sabu ( tahun 2011), 1 kg sabu ( tahun 2014), dan kepemilikan 2000 butir ekstasi (tahun 2016).

“Kita berhasil tidak mungkin tanpa bantuan rekan kerja dan relasi. Dari beberapa kasus yang diungkap, paling berat itu kasus ganja 511 kg. Butuh waktu tiga bulan. Dinas di Sat Narkoba sejak 2010. Sudah sering penyamaran, memang tidak seberat ini,” kata Santi.

Pada peringatan hari ulang tahun ke-69 Polwan, Santi menegaskan bahwa polisi wanita memiliki kemampuan sama dengan laki-laki.
Juga bisa bertugas di lapangan, tinggal diberikan kepercayaan.


“Antara polisi laki-laki dan perempuan itu sama saja. Tinggal individu masing-masing, kalau mau mengembangkan diri bisa sama. Juga peran institusi apakah ingin kita (Polwan) maju atau tidak,” ujarnya.

Santi kecil sebenarnya punya cita-cita menjadi arsitektur.

Karena sejak kecil suka karate, maka orangtuanya mengarahkan bungsu dari enam bersaudara ini masuk polisi.

Merintis karir di kepolisian sejak tahun 2000, Santi pernah bertugas di Tim 35 bertugas menumpas kejahatan jalanan (satu-satunya Polwan), kemudian tugas di layanan pembuatan SKCK Polresta Palembang.

Sembilan tahun, kemudian masuk ke satuan narkoba.

“Selama bertugas belum pernah mendapatkan teror. Tapi kalau melukai fisik ada. Sering didorong, ditodong senjata (parang dan pisau), dilempar batu. Sewaktu mengejar, kadang tidak terasa ada luka misal nyangkut di pagar dan jatuh,” kenangnya.

Meski telah mendapat banyak penghargaan, Santi masih berkeinginan terus mengembangkan diri. Diantaranya keinginan untuk sekolah calon perwira.

“Suatu saat, saya pingin juga setidaknya jadi kapolsek, atau kalau bisa jadi kapolres. Supaya bisa mengembangkan potensi diri. Ilmu yang saya punya ini belum seberapa,” pungkas Santi

nara sumber: http://sumsel.tribunnews.com